Tanda Akhir Zaman

27 04 2010

‘Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah’. (HR. Bukhari)

burj khalifa, merupakan gedung tertinggi di dunia (828 meters) yang telah diresmikan january lalu, bangunan ini memecahkan record gedung tertinggi sebelumnya yaitu CN tower dengan ketinggian 553 meters, kesan perlombaan ini sangat jelas setelah record sebelumya taipei dan petronas malaysia dikalahkan.

..

bangunan ini menghabiskan 1,5 MILIAR US DOLAR di tengah krisis dubai…

ini tidak mengejutkan, TAPI coba buktikan sendiri. tidak usah mengunjungi gedung gedung itu dimana negrinya berasal sperti para perawi hadits, karena sekarang sudah ada internet dan google…
Lihat ternyata Burj Khalifa itu sudah akan ada yang mengalahkan lagi yaitu MUBARAK TOWER (1001 meters) di kuwait, dan DUBAI tidak mau kalah mereka akan membangun AL-BURJ dnegan ketinggian 1050 Meters, dan INFORMASI TERAKHIR arab saudi UNJUK gigi dengan kekayaanya dia akan membangun gedung tertingdi Di Dunia dengan angka ketinggian tertinggi 1600 meter dengan nama MILE TOWER yang akan di bangun di jedah!

Lihat dan bandingkan dengan Gedung pencakar langit sebelumnya…
Bangunan yang akan menelan biaya $150,000,000,000.00 ini bisa menampung populasi sampai 1,000,000 people dengan luas keseluruhan 150,000,000 kaki persegi Catatan Manusia yang ingin mencapai lantai tertinggi gedung ini hanya membutuhkan waktu 9 minutes and 40 detik. Betapa canggihnya! seandainya sampai terealisasi, mari kita saksikan bersama Rencana Mereka

mereka benar benar2 berlomba lomba seperti yang disampaikan rasul berabad abad lalu dalam shahih bukhari,
DULU SAYA KAGUM DAN SEKARANG SAYA TAKUT Setelah mebaca hadist tersebut. subhanalloh…

Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah. (HR. Bukhari)

silahkan sebarkan, semoga menjadi bahan renungan…sahabat

Iklan




rsyâd al-Mujtama’ (Bagian kedua)

7 04 2010

Al-Islam tidaklah termanifestasikan hanya dalam kepribadian seorang muslim saja, akan tetapi nilai-nilai islam juga dilihat dari keadaan social masyarakatnya. Jika kondisi masyaraktnya baik, maka otomatis baik pulalah masyarakat yang ada di dalamnya. Oleh karena itu di dalam al-quran selalu memakai kalimat jama’ (yâ ayyuhal ladzina âmanu) dan bukan memakai kalimat (yâ ayyuhal mu’min). sehingga beban dakwah yang kita emban membutuhkan amal jama’I kesabaran, ketenangan, serta kekuatan untuk bisa membawa risalah yang mulia ini. Begitu juga dalam ibadah dan muamalah, semuanya tercerminkan di dalam kondisi kemasyarakatannya. Setiap da’I pasti akan di uji dalam kesehariannya, semakin dia gencar dalam melakukan perubahan di dalam masyarakat, maka tantangan itu akan semakin nyata dan terlihat. Ujian dan tantangan itu bisa bermacam-macam, mulai dari diasingkan, diusir dari negranya, dijebloskan ke dalam penjara, sampai kepada ancaman hukuman mati. Oleh karena itu al-Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas tentang hubungan antara pribadi seorang da’i dan masyarakat, keduanya saling mempengaruhi. Jika pribadi seorang  muslim itu baik, maka kondisi masyarakatnya akan baik pula. Dan apabila kondisi masyarakatnya sudah baik, maka kondisi itulah yang akan juga membantu dirinya untuk bisa selalu iltizâm memegang ajaran islam. Seperti yang terjadi di zaman rasulullah, ketika melakukan hijrah ke madinah, maka grand design rasul pada waktu itu adalah ingin mewujudkan masyarakat yang memegang prinsip-prinsip aqidah islamiyah, menegakkan ajarannya, dan selalu mensyi’arkan syari’at Allah SWT. Seperti yang dinukilkan Allah dalam surat al-hujurat ayat : 13.  “Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

Landasan syar’i

Melakukan aktivitas dan beramal untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat adalah hukumnya wajib syar’i karena :

1.       Menunaikan kewajiban kita sebagai seorang mu’min kepada Allah SWT untuk menjadikan khalifah di dunia ini dan melakukan kebaikan.

Firman Allah SWT dalam surat al-baqarah ayat 3: “(yaitu) mereka yang beriman[1] kepada yang ghaib[2], yang mendirikan shalat[2], dan menafkahkan sebahagian rezki [3] yang kami anugerahkan kepada mereka.

[1]  Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.

[2]  yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. percaya kepada yang ghjaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, Karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.

[3]  Shalat menurut bahasa ‘Arab: doa. menurut istilah syara’ ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.

[4]  Rezki: segala yang dapat diambil manfaatnya. menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang Telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari’atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.

Serta dalam surat huud ayat 61 : ” Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[5], Karena itu mohonlah ampunan-Nya, Kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

[5]  Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

Dan juga sesungguhnya kaum muslimin dianjurkan oleh allah SWT untuk melakukan kebaikan di muka bumu ini,apapun kondisinya yang menimpa kita saat ini, seperti yang difirmankan Allah SWT dalam surat al-Haj  ayat : 77 “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”

Sesunguhnya manusia mempunyai kebutuhan yang asasi sehingga kita sebagai du’at mempunyai kewajiban yang tidak bisa kita tinggalkan, yaitu menegakkan daulah islâmiyah, dan melakukan perbaikan di dalam lingkungan kita. Diantara kewajiban itu adalah memberi makan para fakir miskin, merawat orang-orang yang sakit, melakukan pengajaran dan memberantas kebodohan, memberikan petunjuk dan menyebarkan kebaikan dengan rasa cinta dan kasih sayang…

Oleh karena itu kita sebagai du’at mempunyai kewajiban untuk selalu memberikan pelayanan kepada masyarakat, dan hal ini menjadi asas untuk kesuksesan dakwah. Firman Allah Swt dalam surat al-Maidah: ayat : 2 ” …dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

2.       Menunaikan kewajiban kita sebagai seorang da’i untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

Islam tidaklah cukup untuk melakukan perbaikan kepada manusia untuk dirinya saja, namun juga untuk orang lain bahkan kepada setiap muslim, baik itu yang laki-laki dan perempuan.

Firman Allah SWT dalam surat at-Taubah : 71 ” Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Syi’ar amar ma’ruf dan nahi munkar lebih di utamakan daripada shalat dan zakat , dan juga dalam masalah keimanan , al-Quran mendahulukan amar ma’ruf dan nahi munkar, seperti yang di firmankan allah SWT dalam surat ali-Imran ayat : 110  “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan sifatnya lebih khusus serta mempunai makna yang lebih besar dari memberikan nasihat dan tadzkirah, setiap muslim diberikan kemampuan untuk menasihati dan memberi peringatan, dan untuk mencegah kepada yang mungkar

3.       Dakwah kepada Allah Swt.

Sesungguhnya risalah dakwah untuk menyeru kepada agama Islam adalah beban yang dipikul oleh kita langsung dari sang penguasa alam, firman Allah dalam surat Yusuf: 108  Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. Hal ini adalah kewajiban kita untuk menyampaikan islam kepada individu ataupun masyarakat.

Kewajiban ini terkandung dalam empat hal, seperti yang dijelaskan oleh Allah dalam surat al-Baqarah : 151.  Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.

Hal yang paling sulit adalah dalam poin “mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

4.       Kewajiban masyarakat untuk menegakkan syari’ah islamiyah

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa hal-hal yang berkaitan dengan halal-haram, hukum-hukum yang berkaitan dengan hubungan antara pribadi dan masyarakat tentang syariat islam saat ini sedang mengalami kemunduran, dan tidak akan pernah terjadi ada perubahan di masyarakat ketika para pemegang amanah dakwah (para murabbi, qiyadah, du’at, dan pemikir islam hanif) selalu muraqabatullah, dan mempunyai semangat untuk menegakkan syari’at Allah .

5.       Orang-orang mu’min yang selalu menepati janji ketika berbai’at kepada Allah.

Menunaikan baiat untuk menegakkan syari’at Allah adalah kewajiban bagi setiap mu’min, imam as-Syahid Hasan al-Banna menempatkan rukun amal ke dalam salah satu rukun dalam rukun sepuluh.

Oleh karena itu sesungguhnya melakukan aktivitas dan amal dalam masyarakat adalah sebuah bentuk amal dalam melakukan aktivitas tarbawi, dan hal ini adalah salah satu bentuk strategi dalam tahap untuk menegakkan khilafah islamiyah diatas manhaj nabawi dan ustadziyatul ‘alam firman Allah dalam surat al-Hajj :78 ” Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. dia Telah memilih kamu dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka Dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong

Bersambung ……..

(Maraji’ : kitab fi nuril Islam halaman: 427-432)





Irsyâd al-Mujtama’

18 03 2010

Irsyâd al-Mujtama’ *

(Bagian pertama)

Oleh: Muhamad Syadid

Al-Islâm datang di muka bumi ini untuk menetapkan prinsip-prinsip kehidupan yang mulia dan syari’at yang lurus, dan kewajiban berda’wah setiap muslim untuk menegakkan syari’atnya dan menjadikan islam sebagai soko guru bagi semesta alam.

Namun kenyataannya sekarang berbeda, islam tidak seperti yang diharapkan pada masa kejayaan dulu, permasalahan menjadi sangat komplek dan rumit, perdebatan agama (furu’iyyah) terjadi di mana-mana.

Dan perubahan yang sistemik itu menjadikan hukum dan kekuasaan kuffâr menggurita di muka bumi ini sehingga merusak tatanan keislaman yang telah dibangun oleh para pendahulu. Namun Alhamdulillah, kini masih ada segolongan para reformis sejati membawa bendera al-Islam dengan memperjuangkan Ishlâh al-Nufus (perbaikan jiwa), dan juga memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sungguh indah firman Allah Swt dalam surat ali imran ayat 148: “Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Pahala dunia dapat berupa kemenangan-kemenangan, memperoleh harta rampasan, pujian-pujian dan lain-lain.)

Para reformis ini haruslah menjadi pelaku utama dan menjadikan kalimat al-Taqwa sebagai pelopor dalam bergerak, dan menjadikan tarbiyah al-Nufus sebagai landasan untuk memberikan pelayanan kepada ummat. Para reformis itu sangat memperhatikan prinsip bahwa ishlâh al-mujtama’ bi shalâhil hukm, hatta yata’azzara al jami’ ‘ala ishlâhil ‘amm. (perubahan dalam masyarakat dengan memperbaiki system (hukum) yang ada, menuju sebuah tatanan perubahan yang lebih baik dan menyeluruh di segala sisi kehidupan).

Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh para pelopor kebaikan ini adalah harus berdiri tegak diatas asas kebersamaan (Amal jama’i) dan keihlasan. Sungguh indah apa yang dilakukan oleh imam as-Syahid Hasan al-Banna di dalam risalahnya dengan meletakkan rukun amal setelah al fahm wa al-Ikhlas, tidak bisa dikatakan seseorang itu beramal jika tidak dibekali al-fahm (pemahaman) dan tidak akan diterima sebuah amal jika tidak didasari rasa ikhlas..

Sudah banyak terbukti sepanjang sejarah islam, kesuksesan para aktivis dakwah yang memahami al-islam yang bersandarkan kepada keimanan dan amal. Bagaikan  layaknya da’iyah tidaklah hanya menjadi sirna dan sia-sia begitu saja risâlah dan ta’lim yang diembannya di dada dan pemikirannya saja, namun harus bisa terpatri dalam amal kesehariannya.

Imâm as-Syahid menjadikan rukun amal itu befase-fase , dan masing masing fase mempunyai perannya masing-masing, dan juga saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Dimulai dengan manhaj amal pribadi kemudian keluarga, masyarakat, sampai kepada kekhilafahan islam, dan ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh rasulullah ketika menyeru kepada kaumnya. Kemudian berpindah kepada fase irsyadul mujtama’ (memberikan petunjuk dan jalan yang benar) dengan membentuk pribadi muslim, rumah tangga islami, dan tatanan masyarakat yang islami. sehigga imam as-syahid fokus kepada fase ini dan beliau sangat berhati-hati dan teliti dalam memilih manhâj yang benar dan lurus untuk bisa merubah tatanan masyarakat yang islami dan ideal yang diinginkan oleh islam itu sendiri.

Perubahan yang dilakukan sang Imam nyaris tidak ada gejolak di dalamnya, tidak ada revolusi, ataupun sejenisnya. Sedangkan perubahan yang islami itu sangat membutuhkan hati yang sangat mendambakan da’wah islam dan dia mampu menegakkannya, dan kepada usar yang bergerak dalam amal islami, menjadikan landasan menuju masyarakat yang islami.

Kita sebagai seorang muslim mengimani manhaj ini dan selalu berusaha untuk bisa memberikan pencerahan kepada ummat yang dengan manhaj ini akan terbentuk aturan masyarakat di seluruh alam, aturan itu adalah bernama : al-Islâm.

Mafhum (Pengertian) Al-Amal ‘alâ irsyâd al-Mujtama’ :

Secara Bahasa:

Makna ‘amal : mengerjakan sesuatu dan mempunyai tujuan.

Mujtama’                    : kumpulan manusia dalam sebuah komunitas tertentu

Irsyâd                            : Petunjuk

Secara istilah:

Segala daya dan upaya serta kesungguhan yang dilakukan untuk menerapkan maqâshid as-syari’ah di atas dunia ini.

Al-‘amal disini yang dimaksud adalah: amal kebaikan dan merupakan ta’bir al-Quran yang termaktub di dalamnya ibadah, mu’amalah, atau amal lainnya. Allah Swt, tidak menginginkan amal yang hanya  sebatas amal kebaikan, namun amal yang  terbaik. Firman Allah dalam surat al-Mulk ayat : 2 (Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun). Imam as-Syahid menulis dalam majalah al-Ikwân al muslimun 1352 H : “wahai para aktivis! Sesungguhnya saat ini ummat sedang menunggu kalian, hiasilah dirimu dengan kebaikan, ummat membutuhkan ajaran islam dari rijâl da’wah seperti kalian……”. (bersambung…)

*(Marâji’: kitâb fi nuril islâm lis syaikh Mahmud abu rayah –juz awwal- halaman 419-426)





al-Islâm wa al-Siyâsah

13 03 2010

al-Islâm wa al-Siyâsah

(Sebuah Telisik singkat)*

.…نحن نعتقد أن أحكام الاسلام و تعاليمه شاملة تنتظم شؤون الناس في الدنيا والأخرة ….فا الاسلام عقيدة و عبادة. و وطن و جنسية. ودين و دولة. وروحانية و عمل. و مصحف و سيف…..

(Ulama’ Da’wah)

Sebagai seorang muslim yang berkomitmen kepada al-Islâm dan menjadikan al-Islâm sebagai manhaj al hayâh (Way of life) seharusnya sudah meyakini bahwa al-Islâm adalah agama yang Syâmil wa mutakâmil. Prinsip tersebut sudah tersirat dalam firman Allah: QS. Al-Baqarah: 208 (Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.)

Ya! Islam kâffah yang diterjemahkan oleh Rasulullah ketika mendirikan negara Madinah sehingga ummat Islâm saat itu menjadi pemimpin dunia. Namum yang perlu kita catat bersama adalah bahwa Rasulullah sebelum sukses dalam da’wah di Madinah, beliau menanamkan ‘aqîdah al-Islâmiyah kepada para sahabatnya. Sehingga saat itu al-Islâm menjadi soko guru bagi dunia (Ustâdziyatul ‘âlam), semua permasalahan yang ada bisa dijawab oleh Islam, mulai dari permasalahan ekonomi, politik, hukum, dsb. Dengan kata lain, ketika seseorangmasuk ke dalam Islam dia telah menemukan semua solusi dari segala macam permasalahan yang sedang dialaminya.

Nah, pertanyaannya sekarang, apakah ummat Islâm saat ini sudah menuju ke arah itu? Ataukah kejumudan dan kemandegan yang terjadi? Penulis yakin setiap kita menginginkan hal yang sama dan kita semua bersama- sama menuju ke arah itu.

Upaya Ummat Islam –terhitung sejak runtuhnya khilafah Utsmaniyah- berusaha untuk meraih kembali kejayaannya yang bisa kita lihat dalam berbagai metode dan cara, ada yang berjuang di ranah aqîdah, ekonomi, teknologi, politik, dsb. Upaya tersebut terkadang dipahami oleh sebagian orang menjadi sebuah perdebatan yang tak kunjung reda, bahkan energi dan amunisi kita habis untuk membahas permasalahan-permasalahan tersebut.

Perjuangan ummat Islam di ranah Politik untuk mewujudkan kembali kejayaan islam yang sekarang sudah hilang adalah sebuah keniscayaan. Secara Syar’I kita bisa telisik lebih dalam melalui kitab-kitab para ulama’ seperti: al-Ahkâm al-Sulthâniyyah karya imâm al-Mawardi, al-Siyâsah al-Syar’iyyah karya Dr.Yusuf al-Qardhawi, Nahwâ al-Mujtama’ al-Islâmi karya monumental Syaikh Sayyid Quthb, Fiqh al-Da’wah karya Syaikh Musthafa al-Masyhur, al-Tafsir al-Siyâsi li Syaikh Sayyid Quthb,dsb.

Yang perlu kita ketahui bersama adalah perjuangan ummat Islam dalam ranah politik itu tidak bersifat kedaerahan, terkungkung oleh nasionalisme kebangsaan ataupun yang lainnya, namun perjuangan itu bersifat ‘âlamiyyah, tidak ada sekat-sekat negara teritorial dsb.Sehingga kebersamaan dari ummat Islam untuk mewujudkan kembali cita-citanya akan segera terwujud.

Pemahaman Politik Yang kita Inginkan

ß¼ãr#y»t $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ ZpxÿÎ=yz Îû ÇÚöF{$# Läl÷n$$sù tû÷üt/ Ĩ$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î/ wur ÆìÎ7®Ks? 3uqygø9$# y7¯=ÅÒãsù `tã È@Î6y «!$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒt `tã È@Î6y «!$# öNßgs9 Ò>#xtã 7Ïx© $yJÎ/ (#qÝ¡nS tPöqt É>$|¡Ïtø:$# ÇËÏÈ

26.  Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. (Q.S Shaad :26)

Ayat di atas merupakan rambu-rambu yang paling jelas ketika seorang mu’min diberikan oleh Allah amanah untuk memimpin ummat. (Maka berilah Keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu), berpolitik yang bukan kita pahami dalam ilmu politik secara umum, yang dimaksudkan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan saja. Akan tetapi kita berpolitik untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran ilâhiah dan memperjuangkan kepentingan kemaslahatan masyarakat. Berkuasa untuk melayani ummat dan memimpin untuk memperbaiki sistem yang tidak berpihak kepada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Masyarakat akan menilai siapakah yang memang benar-benar memperjuangkan aspirasinya, dalam hal ini keberhasilan berpolitik harus mempunyai efek terhadap dimensi kehidupan yang lain. Yang berujung kepada pencerdasan anak bangsa dan mencetak generasi rabbani. Keberhasilan berpolitik tersebut mempunyai efek terhadap pemeliharaan aset-aset bangsa dan pendayagunaan kepada masyarakat yang lebih luas. Alangkah indahnya pernyataan Allah dalam surat al-Fath:29, perumpamaan orang mu’min ketika menjadikan al-Islam sebagai manhaj al-Hayâh, mereka seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

?íötx. ylt÷zr& ¼çmt«ôÜx© ¼çnuy$t«sù xán=øótGó$$sù 3uqtFó$$sù 4n?tã ¾ÏmÏ%qß Ü=Éf÷èã tí#§9$# xáÉóuÏ9 ãNÍkÍ5 u$¤ÿä3ø9$# 3 ytãur ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# Nåk÷]ÏB ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $JJÏàtã ÇËÒÈ

Sebelum saya tutup tulisan ini alangkah baiknya kita renungkan pernyataan sebagai berikut: “Islam adalah Nidzam kompeherensif yang memuat seluruh dimensi kehidupan. Ia adalah Daulah dan tanah air atau pemerintahan dan ummat, ia adalah akhlâq dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Ia adalah Tsaqâfah dan dan qanun atau keilmuan dan peradilan, ia adalah materi dan kesejahteraan atau profesi dan kekayaan. Ia adalah jihad dan da’wah atau militer dan fikrah, sebagaimana ia adalah aqidah dan yang benar dan ibadah yang shohih.”.

Wallâhu a’lam bis shawâb

*(Oleh: Muhamad Syadid –Mahasiswa Program S1 Universitas al-Azhar fakultas Ushuluddin Jurusan tafsir-)





Apakah Kita Sudah Tarbiyah?

6 03 2010

Apakah kita sudah tarbiyah?

Pertanyaan apakah kita sudah tarbiyah atau belum dapat dijawab dengan berbagai jawaban. Kita dapat mengiyakannya dengan berbagai alasan formal. Alasan formal yang kerap menggoda untuk kita munculkan adalah:

a. kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki murabbi,

b. kita telah tarbiyah, karena kita telah memiliki liqa’ pekanan,

c. kita telah tarbiyah, karena kita telah mendapatkan materi yang berkelanjutan.

Benarkah kita telah tarbiyah karena alasan-alasan tersebut di atas? Benarkah sesungguhnya kita telah tarbiyah dengan ’sekadar’ memiliki murabbi? Apakah dengan ’sekadar’ memiliki liqa’ pekanan dan menerima materi tarbiyah, kita telah tarbiyah? Adakah parameter yang lebih dapat dipertanggungjawabkan pada masa depan kita dan tentu saja dapat dipertanggungjawabkan pula di hadapan Allah Swt.?

Visi adalah ide tentang hasil yang dinilai dan dijadikan motivasi kerja suatu tim. Ada dua kata kunci dari deskripsi ini, yaitu

a. visi adalah hasil yang nanti akan menjadi standar penilaian,

b. visi adalah sesuatu yang memotivasi tim dalam bekerja.

Bila disandingkan dengan konsep sederhana tentang visi tersebut di atas, visi tarbiyah adalah ide tentang hasil yang diharapkan dari proses tarbiyah serta sesuatu yang memotivasi tim tarbiyah dalam bekerja. Dari konsepsi sederhana tentang visi di atas, tarbiyah sejatinya mengharapkan suatu hasil yang spesifik dibanding bila diproses dengan selain tarbiyah maupun bila tidak diproses. Hasil spesifik itulah yang kemudian disebut dengan visi tarbiyah.

Visi tarbiyah diformulasikan sebagai berikut,

a. Tarbiyah menjadikan seseorang menjadi seorang da’i yang produktif dan mampu menanggung beban dakwah.

b. Tarbiyah menjadikan seseorang menjadi pribadi yang memiliki wawasan ilmiah dengan berbagai ilmu pengetahuan.

c. Tarbiyah mendukung potensi setiap orang demi mendukung dan mewujudkan cita-cita secepat mungkin.

Paparan tersebut di atas menunjukkan bahwa impian (hasil yang diharapkan) tarbiyah tidak berhenti pada aspek-aspek formal semata. Sebaliknya, visi tarbiyah melompati aspek formal dan menyentuh aspek substantif dalam tarbiyah. Sesungguhnya, lebih penting untuk menjawab pertanyaan ’sudahkah kita tarbiyah?’ dengan jawaban substantif daripada aspek formal.

Untuk memberikannya pada aspek substantif, perlu didefinisikan apa yang menjadi nilai substantif tarbiyah. Dengannya, kita dapat lebih bertanggung jawab dalam menjawab pertanyaan ’sudahkah kita tarbiyah’ tersebut. Tentu saja-sekali lagi pendefinisian nilai substantif ini tidak dalam rangka menafikan aspek formal tarbiyah.

Ada banyak ayat dalam Al-Quran yang memakai kata rabb atau ar-rabb. Rabb adalah nama Allah dalam makna sebagai pendidik dan pemberi perhatian. Materi rububiyatullah kita ‘mengajarkan’ tentang peran Allah dalam menciptakan alam semesta, memberinya rezeki, dan sekaligus menguasainya. Abdurrahman An-Nahlawi menjelaskan tiga akar kata untuk tarbiyah, yaitu sebagai berikut.

a. Raba-yarbu yang bermakna bertambah dan berkembang.

b. Rabiya-yarba yang bermakna tumbuh dan berkembang.

c. Rabba-yarubbu yang bermakna memperbaiki, mengurusi, mengatur, menjaga, dan memerhatikan.

Imam Baidhawi menyebutkan bahwa kata ar-rabb memiliki makna tarbiyah yang artinya menyampaikan sesuatu hingga mencapai kesempurnaannya setahap demi setahap. Tarbiyah adalah sebuah proses yang menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai batas kesempurnaannya. Berdasarkan makna tumbuh dan kembang tersebut, Abdurrahman Al-Bani mengambil empat unsur penting dalam pendidikan,

a. menjaga dan memelihara fitrah objek didik,

b. mengembangkan bakat dan potensi objek didik sesuai dengan kekhasan masing-masing,

c. mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan, dan

d. dilakukan secara bertahap.

Satu hal yang dirasakan sangat menonjol dalam beberapa makna tarbiyah di atas adalah tentang pemberdayaan, memperbaiki, menjaga, menumbuhkan, memberi penekanan pada kekhasan personal, dan kesemuanya dilakukan secara bertahap. Tarbiyah dilakukan sesuai tahap-tahap demi sebuah proses pemberdayaan, perbaikan, penjagaan, penumbuhan, dan penguatan karakter. Tahapan tarbiyah dilakukan dengan sebuah jaminan bahwa akan terjadi pemberdayaan, perbaikan, penjagaan, penumbuhan, dan penguatan karakter; bukan sebuah proses yang mekanis dan berdasarkan urutan. Apakah kita tarbiyah jika semakin tarbiyah justru kita semakin tidak berdaya, semakin hilang karakter positifnya, semakin buruk akhlak dan etosnya, serta semakin kerdil jiwa dan pemikirannya? Sudahkah kita tarbiyah bila hal-hal tersebut terjadi?

Untuk memberikan penekanan pada aspek pemberdayaan, uraian berikut ini mencoba menawarkan kepada saudara sebuah alat bantu untuk menjawab pertanyaan sudahkah kita tarbiyah?

1. Kita sudah tarbiyah jika kita terbuka terhadap perubahan

Kita telah tarbiyah ketika kita mengembangkan sikap terbuka terhadap perubahan. Hasil akhir dari semua proses pembelajaran adalah perubahan; termasuk tarbiyah. Hasil akhir dari tarbiyah adalah adanya perubahan.

Perubahan dipercaya banyak orang sebagai sebuah keniscayaan. Bahkan, perubahan diyakini sebagai sesuatu yang tetap di dunia ini. Oleh karena itu, sikap terbuka dan kemampuan beradaptasi menjadi syarat utama seorang kader dakwah. Seperti ulat, insan-insan produk tarbiyah bagaikan makhluk yang selalu melakukan metamorfosis menuju kondisi yang lebih baik. Insan tarbiyah bukanlah ulat yang bertahan menjadi ulat, meski kondisi dan ulat-ulat lainnya telah melangkah ke fase kepompong. Ulat tarbiyah rela meninggalkan lezatnya dedaunan untuk sebuah masa depan. Demikian pula ketika fase kepompong berakhir, ulat tarbiyah juga segera merobek kantung tidurnya dan terbang tinggi ketika saat untuk terbang telah tiba. Hangatnya kantung kepompong dengan segera mereka tinggalkan. Efektivitas tarbiyah patut kita pertanyakan ketika kita menganggap diri kita telah purna atau setidaknya telah merasakan keletihan untuk terus berubah.

Dalam beberapa kasus, insan tarbiyah ‘telanjur’ besar dalam kondisi tertentu dan sulit berubah ketika kondisi telah berubah. Perasaan telah menjadi sesuatu yang besar itulah yang membunuh tujuan akhir dari tarbiyah. Sudahkah kita tarbiyah?

2. Kita sudah tarbiyah jika mampu bersikap tegas dan menghindari sikap agresif

Kita tarbiyah ketika menjadi manusia yang tegas, bukan agresif. Menjadi insan yang tegas tidak harus menumbuhkan agresivitas. Menolak praktik syirik, menolak kemaksiatan, mempertahankan strategi dakwah, menjelaskan tujuan dakwah, dan menegakkan disiplin memang membutuhkan ketegasan, tetapi tidak membutuhkan agresivitas. Mendiskreditkan, menjelek-jelekkan lawan, menciptakan stereotipe, atau menfitnah rival, bahkan mencederai kompetitor adalah tindakan-tindakan agresif yang kontraproduktif. Para praktisi tarbiyah mesti menyadari urgensi siasat jangka panjang dan penjagaan determinasi dalam dakwah. Oleh karena itu, produk dari tarbiyah adalah insan yang tegas dalam prinsip, memiliki determinasi yang tinggi, sabar dan ulet, serta tidak dapat diprovokasi untuk melakukan tindakan-tindakan kontraproduktif. Sudahkah kita tarbiyah?

3. Kita sudah tarbiyah jika kita menjadi pribadi yang proaktif

Kita tarbiyah ketika proaktif dalam hal-hal yang bermanfaat. Penanggung jawab proses pemberdayaan adalah murabbi dan memang tidak dapat digeser kepada pihak lain. Tetapi, pernyataan tersebut tidak dapat diartikan sebagai hujah bagi sikap pasif mad’u.

Nabi Muhammad Saw. berpesan, ”Bersungguh-sungguhlah kamu dalam hal yang memberikan manfaat dan janganlah kamu lemah/mudah menyerah.

Sebuah kemanfaatan mesti kita upayakan dengan sungguh-sungguh. Sedangkan dengan segenap upaya saja belumlah pasti kita berhasil, apalagi mengharapkan kebaikan dengan cara pasif. Kesempatan belajar, kesempatan bisnis atau penghasilan, dan kesempatan-kesempatan lainnya tidak boleh disia-siakan hanya karena belum mendapat’restu’ dari murabbi. Atau kita berpangku tangan menunggu wasilah-wasilah (sarana) yang direkomendasikan oleh murabbi. Hanya mengonsumsi wasilah yang direkomendasikan dalam suasana kompetisi yang sedemikian tinggi adalah sikap pasif yang pada gilirannya akan merugikan praktisi tarbiyah. Rekomendasi memang diperlukan dan syura memang harus dilakukan, tetapi kedua hal tersebut bukan alasan untuk tidak proaktif. Justru syura akan dinamis dan rekomendasi akan bervariasi jika peserta syura melakukannya dengan proaktif. Lalu sudahkah kita tarbiyah?

4. Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang memiliki sikap mawas diri

Kita tarbiyah ketika tidak mudah menyalahkan orang hin. Bahkan sebaliknya, di lembaga tarbiyahlah kita mengembangkan sikap mawas diri. Karena, komunitas tarbiyah adalah komunitas manusia dengan segenap keunggulan dan sekaligus kelemahannya. Interaksi kemanusiaan ini memang potensial menonjolkan kelemahan orang lain dan menyembunyikan kelemahan diri.

Gajah di pelupuk mata memang kerap kali tampak terlampau kecil. Sebaliknya, kuman atau bahkan ‘bayi kuman’ orang lain tampak jelas di depan mata. Tarbiyah mengantarkan seseorang untuk sadar akan pentingnya berinstitusi atau berjamaah dalam menegakkan agama; sebuah kesadaran bahwa tulang punggung dan pundaknya tidak akan kuasa menanggung beratnya beban dakwah ini seorang diri. Namun, kesadaran ini juga mesti diikuti dengan kesadaran bahwa sebuah jamaah atau institusi dakwah apa pun adalah institusi manusia dengan segenap kemanusiaannya. Ada keunggulan di sana, ada kecerdasan, ada kehebatan, tetapi juga berserak kealpaan, keteledoran, ego, dan juga kepentingan individual. Tarbiyah menjadikan seseorang memiliki kesadaran bahwa berjamaah atau berorganisasi tetaplah lebih baik daripada sendiri dengan kelemahan dan keunggulan pribadi. Proses tarbiyah dengan segenap sarananya haruslah sangat dekat dengan pelajaran-pelajaran mawas diri dan tidak mudah menyalahkan orang lain serta memiliki kecukupan sarana latihan untuk menekan sifat takaburnya terhadap orang lain.

5. Kita sudah tarbiyah jika menjadi pribadi yang mandiri

Kita tarbiyah ketika menjadi insan yang mandiri dan merdeka, bukan manusia yang tergantung pada orang lain. Fakta empiris menyajikan data bahwa para pahlawan kita memiliki jiwa merdeka yang membangkitkan energi besar dalam perjuangannya. Muhammad Saw. adalah sosok yang mandiri dan merdeka, jauh dari intervensi siapa pun. Demikian pula para sahabat Nabi yang tercinta, tidak terkecuali sahabat yang dulunya dikenal sebagai budak. Yasir, Bilal bin Rabah, dan Sumayah bukan lagi insan yang mudah diintervensi oleh tuannya sekalipun ketika berhadapan dengan prinsip yang mereka yakini. Penjajahan nafsu atas jiwa manusia merupakan bahaya laten. Jiwa sangat mungkin tunduk oleh harta benda, jabatan, fasilitas, atau lainnya. Apakah kita pribadi yang mandiri? Sudahkah kita tarbiyah dengan menjadi pribadi yang mandiri?

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, hati yang diisi dengan hal-hal yang buruk akan menyebabkan pola pikir dan pola gerak seseorang menjadi tidak teratur dan rapuh. Misalnya saja, hati seseorang diisi dengan dengki terhadap kenikmatan mobil baru saudaranya. Maka pola pikir seseorang yang hatinya dijajah oleh kedengkian menjadi tidak teratur, tidak produktif, dan pola geraknya pun menjadi rapuh. Segenap potensi pikir dan geraknya terfokus pada saudaranya dan menjadi sangat sensitif terhadap hal itu. Pada akhirnya, hidupnya menjadi tidak produktif karena terjadi kemubaziran potensi diri.

6. Kita sudah tarbiyah jika kita adalah sosok yang berperasaan, tetapi tidak emosional

Kita tarbiyah ketika tarbiyah menjadikan hati dan perasaan kita hidup tanpa terjebak dalam sikap emosional. Kita juga siap menghadapi ujian dan tidak cengeng menghadapi ujian, serta tidak mudah terpukul oleh sebuah kegagalan. Emosi keagamaan adalah sebuah energi yang mendorong untuk berperilaku serba religi. Sedangkan sikap emosional dalam beragama adalah ekspresi yang tidak menguntungkan dan biasanya ditimbulkan oleh pribadi yang tidak siap menghadapi kenyataan.

Konon, dalam menyongsong setiap pertempuran, para samurai selalu menyiapkan diri untuk kalah. Meski kenyataannya justru sering berbeda, karena lawan-lawan merekalah yang kerap kali harus tunduk di tangan para samurai Jepang ini. Demikian pula, para syuhada dalam menyongsong syahid. Hidup mulia atau mati syahid menjadikan mereka tak gentar menyongsong kematian. Meski kenyataannya, sering kali sebaliknya. Sebagian para sahabat bahkan harus menunggu-nunggu kapan syahid menyongsongnya. Emosionalkah kita?

7. Kita sudah tarbiyah jika kita sanggup belajar dari kesalahan

Sebagai manusia, manusia tertarbiyah tentu tetap tidak terbebas dari kesalahan. Ia tetaplah manusia yang mungkin salah. Justru penyikapan seseorang terhadap kesalahan yang dilakukannya itulah yang menjadi indikasi apakah ia tarbiyah atau tidak.

Seseorang yang tertarbiyah adalah seseorang yang menjadikan kesalahan yang dilakukannya sebagai salah satu cara untuk belajar. Terpukul dan sakit adalah hal yang wajar ketika seseorang melakukan kesalahan. Hal yang tidak wajar adalah perasaan sakitnya membunuh kemampuan belajarnya. Ketika kemampuan belajarnya telah mati maka kemampuan untuk berubahnya pun menjadi sirna.

Kita sudah tarbiyah jika kita adalah manusia yang siap menghadapi segala sesuatu di masa depan. Menghadapi sesuatu di masa depan pasca kesalahan memang tidak

sederhana. Krisis kepercayaan diri, berkurangnya kepercayaan dari lingkungan, dan ketakutan adalah hal-hal yang traumatis dan tidak mudah untuk menghadapinya. Namun, kita harus bertanggung jawab dengan menjawab pertanyaan,’sudahkah kita tarbiyah’ dengan menjadi pribadi yang sanggup belajar dari kesalahan.

8. Kita sudah tarbiyah jika hidup di masa sekarang, bersikap realistis, dan berpikir relatif

Kita tarbiyah ketika kita tidak menjadi bagian dari masa lalu; mampu bersikap realistis, berpikir secara relatif, dan tidak mutlak-mutlakan, serta memiliki kepercayaan yang tinggi. Dunia kita ini tidak hitam putih. Tidak ada sosok, oknum, maupun institusi yang serba putih, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, yang dibutuhkan dunia adalah pribadi yang mampu berpikir realistis dan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan konsep atau idealismenya di dunia ini. Menghakimi atau menuding sebagian pihak oleh pihak yang lain akan lebih banyak menghasilkan kenikmatan beragama secara sepihak. Sedangkan di sisi yang lain, dunia tidak merasakan kemanfaatan dari implementasi sebuah idealisme. Oleh karena itulah mengapa ditargetkan agar tarbiyah menghasilkan da’i bukan menghasilkan hakim. Maka sudahkah kita tarbiyah?





Kontemplasi

5 03 2010

Membumi Dalam Amanah dan Kebersamaan*

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” [QS.34:71].
Di dalam Islam, sebuah amanah harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah—Subhânahu wata`âlâ. Bahkan makhluk Allah seperti langit, bumi, dan gunung-gunung pun enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir untuk mengkhianatinya. Manusia, diberikan oleh Allah kemampuan untuk bisa memikul amanah itu tidak lain untuk menguji seberapa jauh tingkatan keimanan kita. Begitu pula para pengemban amanah dan aktivis dakwah dimanapun mereka berada. Kepercayaan yang telah diberikan oleh publik harus bisa dimanage sedemikian rupa dengan berbagai macam “produk” program riil untuk mengejawantahkan amanah yang telah diberikan itu. Tim work yang solid dan kebersamaan adalah kunci untuk bisa bersama-sama mewujudkan amanah itu sehingga kerja-kerja amal kita dinilai “itqan” di mata Allah dan manusia.
Dalam mengemban amanahnya, para aktivis dakwah sebaiknya tidak hanya menggunakan model classical approach (pendekatan yang memegang teguh prinsip dan berorientasi pada hasil) atau istilah gampangnya—yang penting kerja dan hasilnya baik—untuk mewujudkan agenda-agenda besar yang sedang di garap, namun juga perlu ada pendekatan model humanism approach dalam cooperate culture-nya, yaitu dengan menempatkan kebersamaan dan memanusiakan manusia seutuhnya sebagai kekuatan terbesarnya.
para pengemban amanah dakwah itu  bukanlah mesin pekerja, mereka ada bukan hanya sekedar mencari pengalaman dan tempat untuk mengaktualisasikan diri, tetapi mereka juga butuh kenyamanan batin. Ikatan ukhuwah adalah yang utama! Sehingga perasaan cinta dan sense of belonging itu tumbuh dan melekat kuat di hati para aktivis, dengan cinta dan keuntungan itulah kita bias memberikan kinerja terbaiknya untuk dakwah dan ummat.
Pemimpin dalam Islam, bukan sekedar memerintah tetapi juga terjun langsung bersama rakyatnya. Ini bukan berarti sang pemimpin tidak memiliki kafa’ah pendelegasian tugas, namun karena selayaknya seorang pemimpin memberikan teladan dan melayani. Hal ini sebagaimana Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—tunjukkan keteladanan itu ketika beliau membangun masjid Nabawi di Madinah bersama para sahabatnya. Beliau tidak hanya menyuruh dan mengatur atau tunjuk sana-tunjuk sini, tapi beliau turun langsung mengerjakan hal-hal yang bersifat teknis sekalipun. Beliau membawa batu bata dari tempatnya ke lokasi pembangunan.
Sesungguhnya Allah—Subhânahu wata`âlâ—tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula pada kedudukanmu maupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barangsiapa memiliki hati yang shalih, maka Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertakwa ..

Oleh: Muhamad Syadid*

* Wakil Presiden PPMI (Persatuan pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir) (Periode XV Masa Bakti 2009-2010)





KENAPA YAHUDI PINTAR???

2 02 2010

Bangsa Yahudi adalah salah satu bangsa yang menguasai dunia karena kecerdasan dan kelicikannya baik dari segi sains, bisnis, maupun teknologi.

Allah Ta’ala memang telah menganugrahkan kepada bangsa Yahudi suatu kelebihan berupa otak yang cemerlang. Dan sungguh sangat menarik mengetahui kenapa orang Yahudi begitu pintar dan mempunyai kelebihan dibanding bangsa-bangsa lain di atas dunia ini. Tentu saja dalam hal ini hanyalah sebatas kelebihan dalam hal urusan keduniawian…

“dan internet yang sedang kita gunakan ini pun adalah hasil karya mereka”…

Berikut ini sebuah artikel yang akan memaparkan sedikit sebab dari fenomena kelebihan mereka ini.

Marilah kita simak dengan seksama artikel di bawah ini, kemudian membahasnya bersama di kolom komentar dan jangan lupa mari kita SHARE / BAGIKAN agar saudara-saudara kita juga mempunyai kesempatan membaca artikel berharga ini.

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, “Mengapa Yahudi Pintar?”

Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?
Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Persiapan Melahirkan
Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.
Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.
Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”
Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.”
Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

Cara Makan
Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.
Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.
Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),”
ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.
Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

ROKOK
Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.
Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.
Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).
Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.
Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

1 – 6 SD
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, “Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !” katanya.
Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Sekolah Menengah – Perguruan Tinggi
Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.
Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!
Anda terperanjat?
Itulah kenyataannya.

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan.. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

PENDIDIKAN ANAK DI PALESTINA
Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.
Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.
Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran.
Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. “Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?” demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.
Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur’an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.
Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.
Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.
Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.
Benarkah merokok dapat melahirkan generasi “Goblok!” kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini.
“Lihat saja Indonesia,” katanya seperti dalam tulisan itu.
Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!
“Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Apakah ini bukan akibat merokok? Anda fikirlah sendiri?”

(MOHON DISEBARKAN, SEMOGA BERMANFAAT)

Indah novianti
Majalah Sabili
Artikel dari :

http://www.pencerahanhati.com/index.php?option=com_community&view=register&badge=14696&bid=3&Itemid=58